Ketika Kebebasan Akademik dan Perlawanan Perempuan Bertemu di Titik yang Sama
Hariati Sinaga, akademisi yang juga aktif di Serikat Pekerja Kampus (SPK) membagikan refleksinya atas kumpulan cerita perempuan yang didokumentasikan oleh JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) dalam buku “Tanah Ini Tubuh Kami: Perlawanan Perempuan di Garis Depan Ekstraktivisme”.
Saat peluncuran buku ini di Resonansi, Kalibata, Jakarta Selatan pada Jumat, 25 September 2026, diskusi bergerak dari solidaritas antarorganisasi, kritik terhadap cara pandang maskulin dalam memahami perlawanan, hingga tawaran kerangka konseptual ekologi politik feminis untuk membaca pengalaman perempuan yang hidup berdampingan dengan tambang dan proyek geothermal.
Kolaborasi yang Lahir dari Ancaman Bersama
Hariati Sinaga mengisahkan kolaborasi yang telah terjalin lama antara SPK dan JATAM, dalam X Space yang saat itu muncul karena kampus tengah dipertimbangkan untuk menerima izin usaha pertambangan. Bagi SPK, wacana tersebut segera ditolak karena dianggap akan memperparah persoalan kebebasan akademik yang sudah ada. Jika kampus benar-benar memegang izin tambang, dikhawatirkan ruang untuk berdiskusi kritis, termasuk membahas buku semacam ini, akan semakin sempit karena adanya potensi pengawasan terhadap gerak-gerik akademisi.
Titik temu inilah yang menurutnya penting untuk digarisbawahi: perlawanan yang terjadi di ruang-ruang perkotaan atau kampus, sekilas tampak tidak berhubungan dengan perjuangan masyarakat di wilayah tambang, padahal keduanya berhadapan dengan kekuatan yang sama. Sejumlah anggota SPK, disebutkan, juga aktif meneliti isu gender dan perburuhan di sektor sawit maupun industri ekstraktif lainnya, sehingga jejaring dengan JATAM dianggap sebagai kebutuhan, bukan sekadar formalitas solidaritas.
Mendokumentasikan Suara yang Selama Ini Dipinggirkan
Dalam gerakan sosial, pendokumentasian adalah kerja-kerja penting. “ Cerita-cerita perempuan, selama ini jarang didengar apalagi dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Ketika ruang-ruang berbagi informal semakin menyempit, dokumentasi tertulis seperti buku ini menjadi krusial agar pengetahuan dan pengalaman itu bisa diwariskan ke generasi berikutnya, alih-alih hilang begitu saja,” kata Hariati Sinaga.
Ia turut mengingatkan bahwa dalam meneliti dan menulis cerita-cerita ini, prinsip metodologi feminis harus dipegang teguh: perempuan yang menjadi subjek cerita tidak boleh diperlakukan secara ekstraktif oleh peneliti maupun penulis. Alih-alih menafsirkan sepihak, peneliti perlu berusaha memahami bagaimana perempuan itu sendiri memandang realitas sosial mereka.
Ekologi Politik Feminis: Membaca Ulang Relasi Kuasa
Buku “Tanah Ini Tubuh Kami: Perlawanan Perempuan di Garis Depan Ekstraktivisme” menjadi semacam pengantar sebagai pengenalan kerangka ekologi politik feminis untuk memahami situasi yang dihadapi perempuan di wilayah tambang dan proyek geothermal. Kerangka ini melihat bahwa relasi kuasa antara masyarakat, korporasi, dan negara tidak berlaku netral terhadap gender, ada lapisan ketimpangan khusus yang dihadapi perempuan sebagai kelompok dalam masyarakat itu sendiri.
Dari kerangka ini, beberapa gagasan kunci dipaparkan:
Pengetahuan yang bergender dan menubuh
Perempuan kerap memiliki pengetahuan khusus tentang lingkungan sekitarnya, bukan karena kedekatan esensial dengan alam, melainkan karena tanggung jawab sosial dan domestik yang dibebankan kepada mereka membuat interaksi dengan alam menjadi lebih intens. Pengetahuan semacam ini tidak semata berada di kepala, tetapi dirasakan dalam tubuh sehingga penderitaan akibat kerusakan lingkungan pun dialami secara jasmani, bukan hanya secara kognitif. Contoh yang diangkat antara lain pengetahuan lokal soal perawatan di Wawonii, tradisi komunal warga transmigran dan ingatan ekologis perempuan atas air di wilayah lain.
Hak dan tanggung jawab lingkungan yang tidak setara
Meski perempuan berperan sentral dalam interaksi keluarga dan komunitas dengan lingkungan, kontrol mereka atas pengambilan keputusan tetap kecil. Contoh yang disinggung adalah bagaimana perempuan yang tidak diundang dalam rapat formal tetap berusaha memengaruhi keputusan lewat jalur personal. Bahkan dalam masyarakat matrilineal seperti di Bajawa, Flores di mana perempuan mewarisi tanah adat keputusan atas tanah tersebut pada praktiknya tetap berada di tangan laki-laki dalam keluarga.
Beban berlapis tanpa otoritas yang sepadan
Perempuan yang terlibat dalam perlawanan terhadap tambang atau proyek geothermal menanggung beban ganda: dampak lingkungan sekaligus tanggung jawab domestik yang tidak berkurang. Tanggung jawab yang meningkat ini, ditegaskan, tidak berbanding lurus dengan otoritas yang mereka peroleh.
Perempuan bukan kategori tunggal
Pengalaman perempuan muda, lansia, penyandang disabilitas, atau perempuan tanpa hak atas tanah, seperti sosok yang disebut berasal dari kelompok tanpa kasta di pesisir Flores sangat beragam, sehingga akses dan kontrol mereka terhadap tanah dan lingkungan pun berbeda-beda.
Merawat Sebagai Bentuk Perlawanan
Salah satu poin paling ditekankan dalam diskusi adalah kritik terhadap cara pandang yang menganggap perlawanan hanya sah jika berbentuk aksi kolektif dan terstruktur secara terbuka, model yang dianggap masih sangat maskulin, termasuk dalam studi perburuhan. Padahal, tindakan merawat sumber air, mempertahankan ruang hidup, atau sekadar bertahan di tempat tinggal, menurutnya juga merupakan bentuk agensi dan perlawanan, meski sering tidak diakui sebagai demikian.
Perlawanan perempuan, dijelaskan, kerap bersifat spontan dan sangat bergantung pada momentum harian: kapan ada celah untuk bicara, kepada siapa, dan dengan cara apa. Konteks ruang iman dan ritual adat, seperti yang muncul dalam cerita dari Mataloko, Ngada, Nusa Tenggara Timur turut memengaruhi bagaimana perlawanan itu berbentuk, karena adat bisa membatasi sekaligus menjadi ruang aman bagi perempuan secara bersamaan.
Perlawanan semacam ini juga digambarkan sebagai berorientasi masa depan, meski tidak selalu disadari sebagai hal politis: memikirkan apa yang akan dimakan keluarga esok hari, misalnya, pada dasarnya sudah merupakan tindakan berpikir ke depan. Berbeda dengan aksi demonstrasi besar yang memberi tekanan publik secara langsung, perlawanan perempuan digambarkan lebih panjang napasnya tersembunyi, berulang, dan konsisten.
Ketika Tambang Pergi, Perempuan yang Tertinggal
Bagian penutup diskusi menyoroti riset pembicara di wilayah Gambut, Kalimantan Tengah, tempat bekas tambang batu bara peninggalan era Orde Baru kini berganti menjadi tambang emas. Meski jenis tambangnya berubah, dampak lingkungan terhadap sungai tetap berlanjut, memaksa banyak warga meninggalkan desa mereka.
Satu simpulan diskusi dalam peluncuran ini menekankan bahwa ketidakberlanjutan adalah ciri khas industri ekstraktif: masyarakat yang mampu pergi akan meninggalkan wilayah yang rusak, sementara yang datang menggantikannya hanyalah para pekerja tambang.
Perempuan, disebutkan, sering kali termasuk kelompok yang tidak memiliki kapasitas untuk pergi. Akibatnya, generasi muda di wilayah tersebut menghadapi persoalan baru seperti perkawinan anak, masalah reproduksi, hingga kekerasan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga rangkaian dampak sosial jangka panjang yang jarang dibahas dalam narasi standar soal industri ekstraktif.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!