SPKTalks! #3 Bagaimana Serikat Pekerja Menopang Perkembangan Pengetahuan
Mengapa serikat pekerja memiliki peran penting dalam kerja-kerja akademik memproduksi pengetahuan di era neoliberal? Bagaimana pengalaman para peneliti dan pustakawan di Prancis dalam berserikat dan memperjuangkan kesejahteraan serta kondisi kerja yang layak di tengah berbagai tekanan yang mereka hadapi? Sejauh mana pengalaman pekerja di Prancis relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia?
Dalam episode SPKTalks! kali ini, Yesaya Sandang dari Serikat Pekerja Kampus berdiskusi dengan tiga anggota konfederasi serikat buruh nasional terbesar di Prancis, Confédération Générale du Travail (CGT). Mereka adalah Liz Charton, Caroline Bousquet dan Oscar Affholder yang merupakan peneliti di Muséum national d'Histoire naturelle, Paris, Prancis.
SPKTalks! diproduksi oleh Departemen Kerja Sama Internasional dan Departemen Komunikasi dan Informasi Serikat Pekerja Kampus. Ken Swastyastu Pinasthika berkontribusi dalam penyuntingan video dan penerjemahan teks wawancara. Yesaya Sandang dan Rafiqa Qurrata A’yun berkontribusi dalam penyuntingan teks untuk kemudahan pembaca Video lengkap wawancara ini dapat disimak di YouTube resmi SPK melalui tautan ini.
_____
Yesaya Sandang: Di berbagai konteks, kita melihat bagaimana institusi yang menjaga pengetahuan, keanekaragaman hayati, arsip, dan memori publik menghadapi tekanan finansial, meningkatnya sistem kerja tidak tetap, serta ketimpangan yang semakin besar di lingkungan kerja mereka sendiri. Pada saat yang sama, para pekerja yang menopang institusi-institusi tersebut, seperti pustakawan, staf teknis, peneliti, arsiparis, dan tenaga pendukung, sering kali tetap tidak terlihat, meskipun mereka memiliki peran yang sangat penting.
Di Indonesia, banyak persoalan yang saat ini dihadapi oleh para pekerja di museum juga sangat sejalan dengan perjuangan yang kami alami terkait hak-hak pekerja, pengakuan institusional, dan partisipasi yang demokratis. Karena itu, saya ingin mengundang rekan-rekan dari CGT di Muséum national d'Histoire naturelle (CGT Museum) untuk memperkenalkan diri, serta memberikan pengenalan singkat mengenai CGT.
CGT Museum: Saya Liz, dan rekan saya Caroline dan Oscar. Kami bertiga adalah mahasiswa doktoral di Muséum national d'Histoire naturelle. Kami mengerjakan topik yang berbeda-beda, tetapi secara umum semuanya berkaitan dengan ekologi dan pengetahuan tentang masa lalu. Kami semua tergabung dalam serikat CGT Museum.
CGT adalah serikat pekerja terbesar di Prancis, sekaligus yang paling tua secara historis. Usianya sudah lebih dari 150 tahun. CGT dibentuk dengan menyatukan berbagai konfederasi pekerja yang sebelumnya berada dalam sektor publik. Pada saat itu, para pekerja berasal dari berbagai bidang pekerjaan yang memiliki serikat atau perkumpulan masing-masing. Pembentukan konfederasi ini menjadi cara untuk menyatukan semuanya, membangun kekuatan para pekerja, sekaligus menjadi kekuatan politik yang dapat menjadi jawaban terhadap kapitalisme yang sedang berkembang.
Kami berada di CGT Museum, yang merupakan salah satu cabang dari CGT. Ada banyak organisasi di dalamnya, dan saya rasa hal seperti ini juga ada di sebagian besar, atau bahkan semua, serikat pekerja di seluruh dunia. Kami merupakan bagian dari museum yang berada di bawah struktur konfederasi serikat pekerja untuk sektor pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Selanjutnya, konfederasi tersebut merupakan bagian dari konfederasi nasional yang menaungi seluruh sektor pekerjaan tersebut.
Serikat kami benar-benar bersifat lintas profesi. Serikat ini bukan hanya tentang satu jenis pekerjaan tertentu. Kami memang bekerja di CGT Museum, tetapi ketika kami mengikuti rapat-rapat yang lebih besar atau pelatihan-pelatihan, kami bisa bertemu dengan pekerja dari latar belakang yang sangat beragam, mulai dari pekerja pabrik, pekerja di sektor pendidikan, hingga pekerja di perusahaan swasta.
Menurut saya, inilah salah satu kekuatan CGT, yaitu mampu menghimpun orang-orang dari latar belakang yang sangat berbeda, yang ternyata menghadapi berbagai persoalan yang serupa di lingkungan kerja mereka masing-masing. Hal ini baik bukan hanya sebagai kekuatan pekerja yang terorganisasi secara politik, tetapi juga dari sudut pandang individu.
Kami bisa saling berbagi pengalaman hidup dan pengalaman menghadapi tekanan dari sistem kapitalisme dengan para pekerja dari berbagai bidang pekerjaan. Misalnya, ketika kami ikut dalam aksi protes dan bertemu dengan para pekerja kereta api, kami merasakan solidaritas dan kepedulian yang sama. Mungkin kami tidak akan pernah berinteraksi tanpa adanya serikat pekerja.
Di dalam masyarakat kapitalis, kita bisa merasa sangat sendirian karena sistem ini memang dirancang untuk mengisolasi orang, membuat mereka bekerja seefisien mungkin, tidak berorganisasi, dan tidak mengkritik sistem kapitalisme. Karena itu, menurut saya, bertemu dengan para pekerja dari berbagai bidang pekerjaan sangat memperkaya kehidupan. Kita menyadari adanya rasa saling peduli dan bahwa kita bisa membangun kebersamaan dengan banyak orang.
Secara historis, hal ini juga menjadi kunci keberhasilan gerakan serikat pekerja. Ketika para pekerja mulai berkumpul dari berbagai pabrik dan berbagai latar belakang, pada saat itulah mereka benar-benar memulai sesuatu yang besar, sesuatu yang akhirnya efektif untuk memperjuangkan lebih banyak hak, pengurangan jam kerja, dan berbagai pencapaian lain yang kami peroleh di Prancis. Semua itu diraih berkat gerakan-gerakan berskala besar dari serikat pekerja lintas profesi ini. Pola seperti ini juga bisa ditemukan di dalam museum, sebagaimana di setiap lembaga penelitian.
Memang kami semua adalah ilmuwan yang sedang menjalani proses menjadi peneliti, tetapi ada banyak pekerja lainnya yang menunjang kegiatan ilmiah yang kami lakukan. Museum juga merupakan sebuah institusi yang memiliki nilai budaya, yaitu membagikan pengetahuan kepada masyarakat.
Museum memiliki taman yang besar yang menampilkan kehidupan di tengah Kota Paris. Karena itu, ada para pekerja taman yang juga bekerja di museum. Semua orang ini mungkin tidak akan pernah kami ajak berbicara jika kami tidak bergabung dalam serikat pekerja. Namun sekarang, setelah kami berada dalam serikat di museum, saya merasa bahwa para ilmuwan bukanlah kekuatan utama di museum. Karena itu, aksi-aksi protes dan mogok kerja yang saat ini kami lakukan di museum merupakan hasil langsung dari gerakan pekerja dari berbagai bidang pekerjaan yang bersatu di dalam museum.
Yesaya Sandang: Berbicara tentang mogok kerja, bisakah Anda membantu kami memahami situasi yang sedang terjadi saat ini di Paris, apa yang sedang berlangsung, dan mengapa para pekerja memutuskan untuk berorganisasi dan melakukan aksi protes bersama di museum?
CGT Museum: Saat ini memang sedang berlangsung mobilisasi yang dimulai oleh para pustakawan di Bibliothèque Centrale du Muséum, atau perpustakaan pusat museum yang bukan hanya menyimpan buku-buku, tetapi juga arsip dan koleksi lainnya. Jadi, tempat ini benar-benar sangat berharga dan sangat penting untuk perkembangan pengetahuan. Namun, sejak Januari lalu, beberapa pustakawan memutuskan untuk bergabung dengan serikat pekerja karena mereka memperoleh bukti bahwa mereka merupakan pustakawan dengan gaji paling rendah di seluruh Paris. Padahal, kita tahu bahwa Paris, sebagai ibu kota Prancis, memiliki biaya hidup yang sangat tinggi, sehingga benar-benar ada kesenjangan.
Selain itu, juga ditemukan bukti pelanggaran dan ketimpangan dalam pembagian tunjangan di antara para pekerja. Ketimpangan tersebut tidak berkaitan dengan status atau jenis pekerjaan mereka. Misalnya, ada orang yang menerima tunjangan dalam jumlah sangat besar pada akhir tahun, sementara yang lain tidak menerima hal yang sama, dan tidak ada transparansi mengenai alasan terjadinya perbedaan tersebut.
Seluruh perjuangan dan aksi protes ini dimulai pada Januari lalu. Perjuangan ini kemudian menyebar ke seluruh bidang pekerjaan di museum karena memang terdapat banyak kondisi kerja yang tidak pasti dan berbagai persoalan struktural yang sangat serius. Sudah sejak lama banyak orang menyuarakan kekhawatiran bahwa mereka tidak dibayar dengan layak dan jumlah pekerja juga tidak mencukupi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Misalnya, saya teringat pada pekerjaan konservasi dan restorasi spesimen. Koleksi spesimen di museum sangat banyak dan sangat beragam. Ada spesimen sejarah alam, misalnya batuan serpih, burung, fosil, kupu-kupu, hingga serbuk sari. Bukan hanya spesimen yang perlu dijaga agar tetap aman dan terpelihara dengan baik, tetapi juga orang-orang yang memungkinkan spesimen tersebut tetap dapat dipamerkan kepada publik dan diteliti oleh para ilmuwan. Namun, jumlah tenaga yang tersedia tidak cukup untuk merawat semua spesimen tersebut dengan baik.
Mobilisasi yang awalnya dimulai dari satu kelompok kini telah meluas ke berbagai kelompok pekerjaan lainnya. Misalnya, sudah ada berbagai pertemuan penting yang dijadwalkan secara rutin. Setiap hari Sabtu, misalnya, diadakan aksi mogok kerja, sehingga perpustakaan tutup. Di sana, orang-orang dapat bertemu dengan serikat pekerja dan para aktivis yang memperjuangkan berbagai persoalan ini.
Ada juga keinginan yang kuat untuk membangun ruang pertemuan yang nyata di antara para pekerja. Misalnya, kami sempat membicarakan kemungkinan mengadakan piknik bersama selama musim panas. Selain itu, ada keinginan untuk menciptakan momen-momen kebersamaan yang bersifat kolektif dan menyenangkan bagi para pekerja museum, tanpa membedakan siapa yang bekerja di sektor swasta dan siapa yang bekerja di sektor publik. Tujuannya benar-benar untuk menciptakan kembali ruang tempat orang dapat saling bertemu tanpa harus membeli atau mengonsumsi sesuatu, tetapi cukup sekadar berkumpul bersama. Seperti halnya banyak aksi mogok kerja lainnya, aksi ini merupakan hasil dari tekanan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.
Otoritas di Prancis tidak benar-benar menunjukkan perhatian terhadap nilai yang seharusnya diberikan kepada penelitian. Mereka terus mengurangi anggaran untuk ilmu pengetahuan, museum, dan kebudayaan. Lalu mereka mengatakan bahwa tidak ada cukup dana untuk mengelola semua itu. Di sisi lain, mereka justru meningkatkan anggaran militer, misalnya, dan menolak mengenakan pajak yang lebih besar kepada orang-orang terkaya. Akibatnya, kami menghadapi konsekuensi langsung dari penolakan untuk menerapkan sistem pengupahan yang adil dan setara bagi para pekerja di sektor publik.
Di museum sendiri juga terjadi hal lain. Ruang-ruang yang sebelumnya memungkinkan para pekerja dari berbagai bidang untuk berkumpul dan berorganisasi justru dihilangkan. Dulu kami memiliki kantin di museum, tetapi kantin itu ditutup karena dianggap tidak cukup menghasilkan keuntungan bagi pihak manajemen. Ada banyak hal lain yang serupa. Ketika aksi mogok kerja dimulai, ada juga sebuah dokumen rahasia yang tidak sengaja dibagikan. Dokumen itu memuat informasi mengenai besaran gaji yang seharusnya diterima oleh para pekerja museum. Para pekerja yang memperoleh dokumen tersebut melihat bahwa seharusnya mereka menerima jumlah gaji tertentu, tetapi pada kenyataannya mereka tidak dibayar sebesar itu. Mereka pun bertanya-tanya mengenai hal ini.
Karena itu, para pekerja perpustakaan menjadi kelompok pertama yang memulai perjuangan. Mereka mengatakan, “Kami tidak meminta lebih dari apa yang memang menjadi hak kami. Kami hanya ingin menerima apa yang seharusnya kami terima. Kami ingin menerima upah sesuai dengan yang ditetapkan oleh hukum.” Jadi, inti dari aksi protes ini hanyalah agar hukum diterapkan sebagaimana mestinya. Ini bukan sesuatu yang seharusnya dianggap melanggar hukum atau berbahaya. Yang kami minta hanyalah agar hukum dihormati.
Yang membuat situasi ini terasa aneh adalah para pimpinan museum maupun kementerian seharusnya mengetahui aturan hukum. Mereka adalah pihak yang membuat dan menerapkannya. Namun ketika aksi mogok kerja dimulai, tanggapan mereka justru seperti, “Ini aneh. Mengapa kalian tidak dibayar dengan layak? Kami akan memeriksanya.” Bahkan kementerian juga mengatakan, “Kami tidak tahu mengapa kalian tidak dibayar dengan layak. Kami akan menyelidikinya.” Padahal saat itu sudah tiga bulan berlalu, sementara yang kami tuntut hanyalah agar kami menerima apa yang memang menjadi hak kami. Maksud saya, kami sendiri bekerja di bagian penelitian museum sehingga persoalan ini tidak secara langsung berlaku bagi kami, melainkan bagi pekerja lain di museum.
Karena itu, aksi protes sebenarnya sangat mendasar. Hal ini juga yang membuat banyak orang akhirnya bergabung dengan serikat pekerja dan ikut dalam aksi mogok. Mereka melihat bahwa pihak manajemen museum tidak menjalankan kewajibannya untuk menerapkan hukum. Justru serikat pekerjalah yang memperjuangkannya melalui aksi mogok kerja. Akibatnya, banyak orang berpikir, “Kalau pemberi kerja saya tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan, mungkin saya sebaiknya bergabung dengan serikat pekerja.” Dan itulah yang menjadi salah satu kekuatan besar dalam memobilisasi para pekerja.
Yesaya Sandang: Persoalan-persoalan ini tentunya berkaitan dengan isu yang lebih luas mengenai pendanaan publik dan prioritas politik. Apakah menurut Anda situasi ini mencerminkan transformasi neoliberal yang lebih luas dalam pendidikan tinggi dan kebudayaan? Apakah memang itu yang sedang terjadi?
CGT Museum: Ya, tentu saja. Ini adalah hasil dari kebijakan neoliberal selama bertahun-tahun. Misalnya, di sektor publik, upah seharusnya meningkat setiap tahun mengikuti inflasi. Namun, selama bertahun-tahun pemerintah membekukan kenaikan upah demi menekan pengeluaran publik. Kondisi yang sama juga terjadi di sektor publik lainnya seperti di rumah sakit dan pendidikan. Kami juga melihat banyak aksi mogok kerja di sektor pendidikan, termasuk di kalangan guru sekolah menengah. Mereka menghadapi persoalan yang sama seperti kami, yaitu upah yang sangat rendah dan pendanaan yang sangat terbatas untuk menjalankan tugas-tugas yang sebenarnya sangat penting, seperti mengajar anak-anak, merawat orang sakit, melestarikan warisan budaya, dan melakukan penelitian ilmiah. Semua itu adalah hal-hal yang sangat mendasar, yang seharusnya menjadi fondasi bangsa dan negara kami. Namun, pemerintah tidak lagi memberikan perhatian terhadap hal-hal tersebut. Kami memiliki pemerintahan yang mengelola sektor publik, tetapi tidak menyukai sistem publik itu sendiri. Karena itu, selama beberapa periode pemerintahan, mereka seolah-olah terus melubangi dasar perahu yang sedang kami tumpangi, karena mereka yang sedang berkuasa memang tidak menyukai sistem publik. Kadang-kadang terasa bahwa hampir semua pekerja sektor publik sedang berjuang untuk mempertahankan kehidupan mereka. Dan menurut saya, satu-satunya kekuatan di sektor publik yang tampaknya tidak mengalami kesulitan adalah institusi yang memungkinkan pemerintah tetap mempertahankan kekuasaannya, yaitu kepolisian.
Yesaya Sandang: Ya, itu juga merupakan sesuatu yang bisa kami rasakan di Indonesia.
CGT Museum: Kami juga merasa ada paradoks mengenai apa yang dianggap penting dan tidak penting oleh pemerintah Prancis. Misalnya, pemerintah kami sangat bangga dengan segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan. Bahkan di tingkat internasional pun, mereka benar-benar menjadikan warisan budaya dan berbagai aspek kebudayaan sebagai sesuatu yang sangat mereka banggakan.
Namun, ada kesenjangan yang sangat besar dengan kenyataan di lapangan. Hal itu juga terlihat dari berbagai persoalan yang muncul pada akhir tahun lalu. Misalnya, pencurian di Museum Louvre beberapa waktu lalu. Peristiwa itu menjadi semacam peringatan, meskipun sudah terlambat, bahwa jumlah pekerja tidak mencukupi. Bukan hanya petugas keamanan, tetapi juga di semua bidang pekerjaan. Banyak bangunan yang memerlukan restorasi atau peningkatan sistem keamanan, dan para pekerja juga tidak bekerja dalam kondisi yang baik.
Saya tidak tahu apakah berita tentang pencurian di Louvre sampai ke Indonesia. Namun di Prancis, itu menjadi berita yang sangat besar. Yang menarik, hampir pada waktu yang bersamaan juga terjadi pencurian di Museum Nasional Sejarah Alam. Seseorang mencuri bongkahan emas senilai dua juta euro. Namun tidak ada yang membicarakannya karena pada saat yang sama semua perhatian tertuju pada pencurian besar di Louvre. Bagaimanapun juga, Louvre adalah museum terbesar di Prancis, bahkan mungkin yang terbesar di Uni Eropa, dan salah satu yang terbesar di dunia berdasarkan jumlah koleksinya.
Selain itu, ada hal lain yang semakin memperkuat keresahan kami. Tahun ini museum sedang merayakan hari jadinya yang ke-400 dan mengesankan, “Lihatlah institusi yang luar biasa ini. Museum ini sangat hebat. Inilah yang merepresentasikan Prancis. Kami sangat bangga dengan museum ini.” Namun, bagi kami yang bekerja di museum, kami hanya bisa berpikir, “Kalau kalian memang begitu bangga dengan kami, mengapa kalian tidak membayar kami dengan layak?”
Aksi mogok kerja ini juga menunjukkan bagaimana sistem neoliberal diterapkan dalam penelitian di sektor publik, khususnya menyangkut cara ilmu pengetahuan diproduksi. Saat ini kami memang mogok kerja karena persoalan upah, tetapi saya rasa masih banyak hal lain yang sebenarnya layak diperjuangkan. Ada diskusi yang perlu kita lakukan mengenai kapan waktu yang tepat untuk mogok kerja dan bagaimana agar mogok kerja bisa berjalan secara efektif.
Menurut saya, mungkin sekarang belum saatnya melakukan mogok kerja untuk mengubah cara kita melakukan penelitian. Namun, saya berharap suatu hari nanti saat itu akan datang. Tekanan yang diberikan kepada para pekerja di sektor penelitian publik juga sama, bukan? Saya merasa, mungkin situasinya juga serupa di tempat Anda. Kami terus didorong untuk menghasilkan ilmu pengetahuan seolah-olah ilmu pengetahuan adalah sebuah komoditas, bukan pengetahuan. Kami dituntut untuk menghasilkan “produk ilmiah” yang diukur dari jumlah artikel yang diterbitkan dan besarnya dampak dari artikel tersebut.
Hal seperti ini juga terjadi ketika orang-orang yang berpandangan neoliberal memimpin negara. Mereka tidak memahami apa sebenarnya ilmu pengetahuan itu. Mereka hanya memahami penelitian yang bersifat utilitarian, yaitu penelitian yang menghasilkan industri atau penemuan yang dapat dikomersialisasikan. Sementara itu, penelitian di bidang ekologi dan evolusi tidak sesuai dengan cara mereka memahami ilmu pengetahuan. Akibatnya, mereka mengatakan bahwa kami harus menghasilkan sejumlah tertentu penelitian setiap tahun. Padahal, bagaimana mungkin ilmu pengetahuan bekerja seperti itu? Pimpinan lembaga administrasi penelitian juga merupakan orang-orang yang ditunjuk oleh presiden. Misalnya, saya merupakan bagian dari Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS), yaitu Pusat Nasional untuk Penelitian Ilmiah, lembaga yang merupakan penyandang dana terbesar untuk penelitian di Prancis.
Pimpinan CNRS pernah mengatakan bahwa seharusnya ada Darwinisme sosial di antara para ilmuwan. Padahal, Darwinisme sosial bukanlah konsep ilmiah yang benar. Itu hanyalah cara untuk mendorong persaingan antarmanusia. Pernyataan seperti itu menunjukkan bahwa mereka bahkan tidak memahami apa itu Darwinisme. Mereka mengatakan tidak ada cukup dana untuk penelitian. Padahal ada. Mereka hanya tidak ingin mengambil dana itu dari tempat uang tersebut berada, yaitu dari kantong orang-orang kaya.
Kemudian mereka berkata, “Karena dananya tidak cukup, kalian harus bekerja lebih efisien, lebih kompetitif, dan lebih baik.” Akibatnya, para ilmuwan dipaksa saling bersaing. Hal ini menciptakan kondisi kerja yang sangat tidak sehat, sekaligus menghasilkan praktik penelitian yang juga tidak sehat. Mereka lebih mendorong kepentingan pribadi dan persaingan dalam menghasilkan penelitian daripada cara bekerja yang etis. Menurut saya, inilah dua bentuk tekanan neoliberal yang bekerja sekaligus: terhadap pekerjaan di sektor publik dan terhadap cara ilmu pengetahuan diproduksi. Dan menurut saya, kondisi ini tidak memberikan masa depan yang baik bagi ilmu pengetahuan.
Yesaya Sandang: Tantangan yang kita hadapi saat ini cukup serupa di berbagai belahan dunia, terutama di tengah ketegangan antar negara dan berbagai perang yang sedang terjadi. Kondisi tersebut membawa perubahan terhadap prioritas politik yang diambil oleh pemerintah. Saya sangat mengagumi sejarah panjang dan tradisi mobilisasi kolektif yang Anda miliki, terutama ketika Anda menyebutkan tentang serikat lintas profesi, di mana para pekerja dari berbagai bidang dapat bersatu dalam satu gerakan melalui serikat pekerja.
Hal seperti ini justru sedang kami perjuangkan di Indonesia, khususnya di kalangan pekerja kampus, agar kami menyadari bahwa kami juga merupakan bagian dari kelas pekerja, bahwa kami juga adalah pekerja, dan karena itu kami perlu membangun solidaritas dengan kelas pekerja lainnya serta dengan pekerja dari berbagai profesi. Dalam situasi kami, masih ada berbagai pemahaman yang berbeda mengenai siapa yang disebut sebagai pekerja atau buruh. Bagaimana cara membangun pemahaman seperti ini hingga dapat berkembang menjadi aksi kolektif dan mampu memobilisasi orang-orang dalam sebuah serikat pekerja yang besar?
CGT Museum: Kami juga menghadapi persoalan yang sama di Prancis, terkait belum tumbuhnya kesadaran bahwa kami sebenarnya adalah pekerja di bidang ilmu pengetahuan. Di Prancis pun demikian. Banyak orang menganggap bahwa melakukan penelitian hanyalah soal passion. Mereka berpikir kita melakukan ini karena menyukainya, dan juga karena merupakan sebuah privilege, karena kita memiliki kesempatan dan biaya untuk menempuh pendidikan hingga jenjang magister, kemudian doktor, lalu melanjutkan karier akademik. Karena itu, cukup sulit membangun kesadaran bahwa kami juga adalah pekerja, dan kami juga ingin memiliki kualitas hidup, upah, serta kondisi kerja yang sama baiknya dengan pekerja di bidang lain.
Banyak orang bahkan tidak memahami hal-hal yang sangat mendasar mengenai status mereka sebagai pekerja. Saya ingat pernah berdiskusi dengan peneliti muda lain seusia saya, dan mereka bahkan tidak tahu bagaimana sistem pensiun atau asuransi bekerja. Ketika saya mengatakan, “Kalau kamu tidak diberi kontrak kerja, berarti kamu tidak memiliki hak pensiun dan tidak memiliki perlindungan sosial,” mereka bahkan tidak mengetahuinya.
Jadi, menurut saya langkah pertama adalah membicarakan hal-hal tersebut, agar orang menyadari apa yang mereka kehilangan ketika tidak dipandang sebagai pekerja. Karena secara individu, ada banyak hal yang hilang. Kemudian, langkah berikutnya adalah menyadari secara kolektif bahwa jika kita tidak menganggap diri sebagai pekerja, maka kita juga akan mengalami kerugian bersama. Akibatnya, kita menjalankan profesi ini dalam kondisi yang jauh dari ideal. Padahal kita bisa melakukan semua pekerjaan ini dengan jauh lebih baik jika tersedia pendanaan yang memadai dan kondisi kerja yang lebih baik. Dengan demikian, secara kolektif kita bisa memperoleh banyak hal ketika kita mulai melihat diri kita sebagai pekerja.
Kalau melihat pengalaman CGT Museum, dan juga banyak serikat pekerja lainnya, banyak orang mulai berpikir untuk bergabung dengan serikat biasanya setelah mereka mengalami satu, dua, atau bahkan lebih banyak situasi ketika mereka menyadari bahwa hak-hak mereka atau tanggung jawab mereka tidak dihargai. Jadi, bisa dibilang kesadaran itu muncul ketika situasinya sudah agak terlambat. Namun, saya rasa kita tetap bisa melakukan sesuatu bersama. Yang penting adalah mengingat bagaimana proses orang mulai bergabung dengan serikat pekerja. Dalam banyak kasus, hal itu terjadi karena mereka sudah mengalami sesuatu yang seharusnya tidak perlu mereka alami. Ya, saya rasa memang agak menyedihkan, tetapi orang yang paling mudah diajak bergabung dengan serikat biasanya adalah mereka yang sedang mengalami masa-masa sulit.
Seperti yang tadi Anda katakan, pengalaman seperti itulah yang bisa melahirkan kesadaran mengenai kondisi kerja, bahkan kesadaran kelas. Ketika seseorang merasa diperlakukan secara tidak adil, kami datang dan mengatakan, “Mungkin persoalannya adalah kapitalisme. Mungkin persoalannya adalah struktur kekuasaan.” Lalu mereka menjawab, “Ya, benar juga.” Persoalannya adalah sistem, bukan individu.
Tetapi orang yang paling sulit diyakinkan justru adalah mereka yang belum mengalami kesulitan yang begitu besar. Karena itu, menurut saya, yang perlu terus dilakukan adalah pendidikan publik. Bukan setiap hari, tetapi sesering mungkin. Kita perlu menjelaskan bagaimana kapitalisme bekerja, bagaimana sistem itu membuat orang lupa bahwa mereka sedang diperlakukan seperti itu, dan bagaimana sistem tersebut membuat orang merasa bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas kesulitan yang mereka alami.
Kita perlu menjelaskan bahwa itulah cara kerja kapitalisme. Menurut saya, hal yang paling mendasar adalah kembali mengkritik kapitalisme. Akan selalu ada orang yang mengatakan bahwa komunisme telah gagal di Uni Soviet maupun China. Para pendukung neoliberal kemudian menggunakan hal itu untuk mengatakan bahwa komunisme sudah berakhir. Mereka mengatakan bahwa demokrasi liberal telah menang, sehingga itulah satu-satunya cara untuk mengatur masyarakat. Akibatnya, jika hari ini Anda seorang komunis, Marxis, atau sekadar mengkritik kapitalisme, Anda dianggap sebagai orang dari masa lalu. Padahal, ketika kita melihat kapitalisme saat ini, kritik yang disampaikan Marx lebih dari dua ratus tahun lalu masih sangat relevan dengan situasi sekarang. Karena itu, menurut saya sangat penting untuk membaca kembali buku-buku lama, sekaligus menghubungkannya dengan situasi saat ini.
Saat ini saya banyak membaca buku tentang gerakan serikat pekerja, anarkisme, dan Marxisme yang ditulis sekitar 150 hingga 200 tahun lalu. Yang membuat saya terkejut adalah betapa tepatnya analisis-analisis itu menggambarkan apa yang sedang terjadi sekarang. Teknologinya memang berbeda, tetapi cara kerja kapitalisme tetap sama: melemahkan serikat pekerja dan menyingkirkan solidaritas antarpekerja. Karena itu, menurut saya, hal paling penting untuk membangun serikat pekerja saat ini adalah menciptakan kesadaran kelas dengan menjelaskan kepada orang-orang bahwa kapitalisme belum berakhir. Bahkan, dalam banyak hal, kondisinya justru semakin buruk. Kesenjangan kekayaan antara kelompok terkaya dan termiskin sekarang bahkan jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Kita juga perlu menjelaskan bahwa solusi-solusi sebenarnya sudah pernah dirumuskan, dan selalu ada alternatif. Menurut saya, hal yang paling membuat orang putus asa adalah keyakinan bahwa tidak ada alternatif selain kapitalisme. Seolah-olah kapitalisme telah menang sepenuhnya di masyarakat Barat.
Kita mengenal pernyataan terkenal dari banyak tokoh di dunia Barat, misalnya Margaret Thatcher, yang mengatakan bahwa kebijakan neoliberal harus dijalankan karena “tidak ada alternatif”. Ya, justru dengan membuat alternatif itu seolah-olah tidak pernah ada, kapitalisme dapat terus bertahan. Saya melihat serikat pekerja seperti semacam karat atau penyakit di dalam sistem kapitalisme yang perlahan-lahan menyebar dan berkembang. Karena itu, menurut saya, salah satu strategi gerakan serikat adalah mengenali siapa yang sudah cukup siap untuk diajak bergabung dengan serikat, lalu memberikan bekal politik agar ketidakpuasan yang mereka rasakan dapat berubah menjadi kesadaran politik. Harapannya, kesadaran itu kemudian akan terus meluas.
Dan menurut saya, itulah yang sedang terjadi di museum. Jumlah anggota serikat kami terus bertambah. Semuanya berawal dari membuat orang menyadari bahwa mereka adalah pekerja, seperti yang Anda katakan tadi. Ketika saya memulai program doktoral, saya tidak menganggap diri saya sebagai pekerja. Saya menganggap diri saya sebagai mahasiswa. Dan juga sebagai orang yang sangat beruntung karena bisa berada di posisi ini, bahkan mendapatkan gaji. Lalu kemudian kita menyadari, “Tunggu sebentar. Saya adalah pekerja. Saya memberikan kontribusi kepada masyarakat, baik dalam bentuk nilai ekonomi maupun nilai pengetahuan.” Ada aturan-aturan ketenagakerjaan yang juga berlaku bagi kita. Kita bukan sekadar orang yang mempelajari ilmu pengetahuan. Kita adalah orang yang bekerja. Dan bagi saya, kesadaran itulah yang menjadi langkah besar untuk bergabung dengan serikat pekerja. Karena ketika saya menyadari bahwa saya adalah seorang pekerja, maka saya mulai melihat diri saya sebagai bagian dari perjuangan bersama.
Yesaya Sandang: Mana yang lebih dulu muncul? Kesadaran bahwa Anda adalah seorang pekerja, atau ketika Anda mulai mengenal bacaan-bacaan klasik yang mengkritik kapitalisme saat ini?
CGT Museum: Bagi saya, sebelum bekerja di museum, saya sudah memiliki cukup banyak pengalaman kerja. Semuanya berada di bidang arkeologi dan prasejarah, dan hampir semuanya berupa kontrak jangka pendek yang sangat tidak pasti. Saya juga tidak memiliki kesempatan untuk memperpanjang kontrak karena memang seperti itulah sistem kerja arkeologi di Prancis, yaitu didominasi oleh kontrak-kontrak jangka pendek dengan peluang yang sangat kecil untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Karena itu, ketika saya akhirnya mendapatkan kontrak selama tiga tahun untuk menjalani program doktoral ini, saya benar-benar sangat senang. Namun, saya kemudian menghadapi banyak persoalan dengan administrasi. Prosesnya berlangsung sangat lama, sehingga saya harus mencari pekerjaan lain sambil menunggu semuanya selesai. Jadi, bagi saya, keputusan untuk bergabung dengan serikat pekerja muncul karena saya sudah lebih dulu mengalami berbagai kesulitan dalam pekerjaan, bahkan sebelum mendapatkan kontrak kerja ini.
Yesaya Sandang: Menarik sekali, karena dalam banyak kasus di Indonesia, termasuk pengalaman saya sendiri, saya baru menyadari bahwa saya sebenarnya telah dieksploitasi setelah terpapar pada berbagai bacaan kritis tentang eksploitasi dan kapitalisme. Sebelum itu, saya menganggap semuanya hanya sebagai bagian dari passion. Saya berpikir bahwa memang begitulah adanya dan saya harus menerimanya. Terlepas dari berbagai kesulitan dan tantangan yang harus saya hadapi, saya menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar. Namun, belakangan ini kami mulai memahami bahwa kondisi tersebut sebenarnya tidak benar. Dari situlah kami mulai mengorganisasi diri dan membentuk serikat pekerja.
Karena itulah serikat pekerja kampus kami di Indonesia juga memiliki kegiatan seperti kelompok baca dan klub buku, untuk memperluas wawasan serta pemahaman kami mengenai situasi yang sedang kami hadapi saat ini. Kami berusaha memahami siapa diri kami dalam situasi ini, bahwa kami sebenarnya adalah pekerja yang mengalami eksploitasi, dan bahwa kesenjangan yang ada terus semakin melebar. Jadi, ya, itu hanya salah satu contoh.
CGT Museum: Kalau saya justru agak sebaliknya, karena saya tumbuh di keluarga yang berpandangan kiri. Jadi, sejak kecil saya sudah memiliki sedikit kesadaran politik. Saya sudah ikut orang tua saya dalam aksi protes sejak saya masih sangat kecil. Kalau tidak salah, aksi pertama yang saya ikuti saat berusia lima tahun. Jadi saya memang sudah terbiasa dengan lingkungan seperti itu. Namun, saat itu saya sendiri belum terlalu terpolitisasi. Saya hanya mengikuti orang-orang yang memang sudah memiliki kesadaran politik.
Yang kemudian membuat saya semakin terlibat dalam dunia politik juga adalah arah kebijakan yang sedang berjalan. Selain itu, menurut saya, ikut aksi protes di Prancis juga menyenangkan. Ada banyak musik, kita bisa berbincang dengan banyak orang, dan suasananya menyenangkan. Aksi protes juga menjadi kesempatan untuk bertemu orang-orang, bercanda bersama, mendengarkan musik, dan ketika cuacanya bagus, rasanya menyenangkan berada di luar. Kita juga tidak perlu mengeluarkan uang. Semua dilakukan secara sukarela. Rasanya menyenangkan bisa melakukan aktivitas bersama orang lain tanpa harus mengeluarkan biaya. Di kota-kota besar sekarang, kesempatan seperti itu tidak terlalu sering terjadi. Karena itu saya senang ikut aksi protes.
Saya memang tidak setuju dengan situasi saat ini, sehingga saya ikut bergabung. Namun selain itu, aksi protes juga menjadi momen yang menyenangkan untuk dijalani. Di sana kita bisa berdiskusi dengan orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang budaya. Mereka berbagi pengalaman hidup mereka. Mereka berbicara tentang gagasan-gagasan utama dari tradisi politik kiri. Kadang-kadang, berdiskusi langsung dengan seseorang yang akrab dengan kita justru jauh lebih efektif daripada membaca sebuah buku lama setebal dua ratus halaman. Karena itu, menurut saya kita juga perlu memperbanyak cara dalam melakukan pendidikan rakyat. Saya bahkan merasa bahwa menghadirkan sebuah band yang memainkan lagu-lagu bertema politik dalam sebuah acara jauh lebih efektif untuk membangun kesadaran politik daripada hanya membaca buku sendirian di kamar. Hal seperti itulah yang sekarang juga sedang kami kembangkan di serikat pekerja kami di museum, dan juga di berbagai tempat lain di Prancis, yaitu menciptakan aksi protes yang penuh kegembiraan. Ketika kapitalisme terus menekan semangat hidup kita, maka solidaritas antar pekerja seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dijalani bersama.
Yesaya Sandang: Lalu, dalam upaya tersebut, bagaimana menurut Anda peran media? Menyebarluaskan perjuangan dan pesan kita di tengah lanskap media digital saat ini tentu menjadi hal yang penting. Apakah Anda memiliki pandangan mengenai hal itu?
CGT Museum: Di Prancis saat ini sedang terjadi perdebatan yang sangat besar mengenai persoalan tersebut, terutama tentang bagaimana media dikendalikan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dan modal, sehingga mereka juga memiliki banyak kepentingan yang harus dipertahankan. Media akhirnya tidak berkepentingan memberitakan aksi mogok kerja, kritik terhadap kapitalisme, kritik terhadap sistem, atau kritik terhadap pemerintah. Jadi memang ada perdebatan besar mengenai media arus utama, media konvensional yang biasa kita kenal, atau media tradisional—yang ditonton nenek saya setiap malam.
Namun, di sisi lain, kini ada berbagai media alternatif yang juga semakin penting di Prancis. Menurut saya, media-media tersebut mampu menyampaikan pesan-pesan seperti ini dengan lebih baik dibandingkan dengan media tradisional. Mereka juga lebih bebas dari pengaruh orang-orang yang berkuasa dan memang tertarik untuk mengkritik sistem, bukan untuk mempertahankannya seperti saat ini. Jadi, intinya adalah mencari alternatif dari media arus utama.
Selain itu, kita juga harus menyesuaikan dengan siapa yang ingin kita ajak berbicara. Media apa yang paling tepat untuk menjangkau mereka? Karena tidak semua orang menggunakan media alternatif. Jadi, terkadang kita tetap perlu bekerja sama dengan media tradisional agar pesan kita bisa sampai kepada masyarakat.
Namun, saat ini tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media di Prancis memang sangat rendah. Sebagian besar media swasta dimiliki oleh segelintir orang. Kalau tidak salah, hanya sekitar lima atau sepuluh orang yang menguasai lebih dari 80 persen media swasta di Prancis. Media juga merupakan sebuah bisnis, dan bisnis tentu mengikuti kepentingannya sendiri. Kadang-kadang kita tidak bisa datang ke sebuah media lalu mengkritik pemilik media tersebut. Itu akan menimbulkan masalah, dan kemungkinan besar Anda akan disensor. Karena itu, kita harus benar-benar mempertimbangkan kepada siapa kita berbicara. Kita juga perlu memikirkan bagaimana memanfaatkan bentuk-bentuk media yang baru. Bahkan kadang bukan media dalam arti formal, melainkan penyebaran informasi secara langsung melalui Instagram, Twitter, dan platform-platform lainnya.
Menurut saya, aksi mogok kerja hampir selalu digambarkan secara negatif oleh media arus utama. Contoh yang paling sederhana adalah ketika pekerja kereta api melakukan mogok kerja. Saat itu tidak ada kereta yang beroperasi, dan banyak orang menunggu di stasiun. Media kemudian berkata, "Kami harus memberikan informasi terbaru." Lalu mereka mengirim wartawan ke stasiun. Namun, yang ditampilkan bukan para pekerja yang sedang mogok. Yang ditampilkan justru orang-orang yang terdampak oleh aksi mogok tersebut. Wartawan mewawancarai penumpang yang ketinggalan kereta, lalu penumpang itu berkata, “Mogok kerja ini buruk karena saya jadi tidak bisa naik kereta.” Kemudian media menyimpulkan, "Lihat, para pekerja kereta api sedang menyandera masyarakat Prancis." Padahal mereka hampir tidak pernah membahas mengapa aksi mogok kerja itu terjadi.
Menurut saya, hal seperti ini sering terjadi. Semakin besar dampak aksi mogok kerja terhadap masyarakat, bukan berarti para pekerja yang mogok adalah orang-orang jahat yang sengaja menciptakan kekacauan. Justru itu menunjukkan betapa pentingnya pekerjaan mereka bagi masyarakat. Ketika mereka berhenti bekerja, masyarakat menyadari bahwa sistem tidak dapat berjalan tanpa mereka. Namun, media tidak menggambarkan aksi mogok kerja dengan cara seperti itu. Karena itu, kadang-kadang kita bertanya, apakah benar bekerja sama dengan media seperti itu merupakan langkah yang efektif? Belum tentu. Dan menurut saya, pertanyaan seperti itu perlu didiskusikan dalam setiap situasi dan pada setiap aksi mogok kerja.
Yesaya Sandang: Saya rasa kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa tantangan yang kita hadapi memang tidak persis sama, tetapi berbagai aspek yang melingkupinya cukup serupa. Dalam situasi yang sedang kita hadapi saat ini, bagaimana pandangan Anda mengenai solidaritas internasional, seperti yang sedang kita coba bangun di sini?
CGT Museum: Menurut saya, solidaritas internasional adalah hal yang sangat penting. Memang seharusnya begitu, karena kita tidak bisa mengubah keadaan hanya di satu negara dalam sebuah sistem global yang semuanya saling terhubung. Terutama dalam dunia kerja kami. Sebagai ilmuwan, kami harus terus berpindah dari satu negara ke negara lain untuk berkolaborasi, bekerja, dan melakukan penelitian. Internasionalisme memang seharusnya menjadi dasar dari semua hal yang ingin kami bangun sebagai serikat pekerja.
Karena kondisi para pekerja bersifat internasional. Oleh karena itu, kita juga harus membangun serikat pekerja dalam skala internasional. Selain itu, internasionalisme juga merupakan bagian yang sangat penting dalam sejarah perkembangan serikat pekerja. Semangat untuk membangun kekuatan bersama, membentuk front yang benar-benar kuat dan efektif melalui kolaborasi, merupakan salah satu fondasi utama gerakan serikat.
Dalam kasus kami, misalnya, kami semua bekerja di institusi yang bergerak di bidang pelestarian warisan budaya, kebudayaan, dan pendidikan. Karena itu, penting bagi kami untuk membangun solidaritas dan hubungan antarlembaga. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula kekuatan, efektivitas, dan dampak yang dapat kita hasilkan. Menurut saya, inilah kuncinya. Karena melalui solidaritas internasional, kita dapat mempertahankan berbagai prioritas bersama, sekaligus menjaga otonomi penelitian.
Sebagai contoh, tahun depan kami akan menghadapi persoalan besar. Dalam konteks Museum Nasional Sejarah Alam, tahun 2027 bertepatan dengan pemilihan presiden yang baru di Prancis. Kami mengetahui bahwa direktur museum dipilih oleh Presiden Republik. Hal itu memang bukan sesuatu yang baru. Namun, situasi politik Prancis saat ini sedang diwarnai oleh menguatnya kelompok-kelompok politik sayap kanan, yang bersifat rasis, nasionalis, dan konservatif, seperti Rassemblement National. Selain itu masih ada beberapa kelompok lain. Situasi ini benar-benar mengkhawatirkan. Kami memperkirakan akan ada dampak yang sangat besar dalam waktu dekat, seperti meningkatnya privatisasi, semakin meluasnya pekerjaan yang tidak pasti, serta kontrol yang semakin besar terhadap ilmu pengetahuan. Akan muncul pertanyaan mengenai penelitian apa yang dianggap baik, mana yang dianggap buruk, mana yang menjadi prioritas, mana yang tidak, dan penelitian apa yang dianggap berguna, misalnya untuk kepentingan militer atau yang dapat dikapitalisasi demi menghasilkan keuntungan.
Menurut saya, semua institusi, semua pekerja di berbagai institusi, dan semua negara akan menghadapi tantangan yang sama dalam konteks internasional seperti sekarang. Persoalannya bukan hanya soal batas wilayah suatu negara atau batas fisik sebuah institusi—misalnya sampai di ujung taman Jardin des Plantes. Persoalan ini jauh lebih besar dari itu. Situasinya benar-benar mengkhawatirkan dalam skala yang luas.
Solidaritas internasional antar pekerja memang merupakan dasar dari gerakan serikat pekerja. Kalau mengingat kata-kata Marx, pada intinya, pekerja dari seluruh dunia harus bersatu. Terus terang, saya sendiri bukan pendukung besar konsep negara-bangsa. Bagi saya, negara dan perbatasan sering kali hanya menjadi cara untuk membatasi pasar di dalam dan di luar suatu wilayah. Padahal kita hidup dalam sistem kapitalisme dan neoliberalisme yang berskala global. Barang diproduksi di satu bagian dunia untuk dikonsumsi di bagian dunia yang lain. Kita hidup dalam masyarakat yang saling terhubung secara global. Karena itu, solidaritas pekerja juga seharusnya bersifat global.
Bahkan dalam dunia ilmu pengetahuan sekalipun, mengapa kita harus membatasi gerakan serikat hanya sampai di sebuah perbatasan? Padahal sepuluh kilometer setelah melintasi batas tersebut sudah merupakan negara lain, dengan kondisi penelitian yang berbeda. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas negara. Karena itu, tujuan akhirnya adalah membangun organisasi internasional. Misalnya, banyak hal yang menurut saya perlu diubah dalam dunia penelitian tidak bisa diselesaikan hanya pada tingkat nasional. Perubahan itu harus dilakukan secara internasional. Salah satu contohnya adalah sistem penilaian penelitian, yang menurut saya merupakan salah satu hal yang paling bermasalah dalam dunia riset. Perubahan seperti itu harus datang dari seluruh dunia melalui organisasi-organisasi kita, karena kaum kapitalis sendiri sudah memiliki organisasi internasional.
Bahkan kelompok-kelompok fasis dan reaksioner pun memiliki solidaritas internasional. Seperti yang tadi kami bahas, Trump memiliki hubungan yang baik dengan Orbán, Netanyahu, Bolsonaro, Giorgia Meloni, dan tokoh-tokoh lainnya. Ada semacam solidaritas internasional di antara kelompok-kelompok fasis. Lalu, apa jawaban kita terhadap situasi itu? Jawabannya adalah membangun solidaritas internasional. Menurut saya, kita sudah banyak menunjukkan hal tersebut. Salah satu contohnya adalah solidaritas terhadap Palestina. Misalnya, serikat pekerja pelabuhan di Marseille, Prancis selatan, pernah menolak memuat sebuah kapal yang akan mengirimkan senjata ke Israel. Bagi saya, tindakan seperti itu menunjukkan bahwa kita berusaha memberikan bantuan melalui setiap langkah kecil yang bisa kita lakukan, demi orang-orang yang hanya ingin menjalani kehidupan mereka. Dan memang itulah makna solidaritas antarmanusia. Solidaritas bukan hanya kepada orang-orang yang berasal dari negara yang sama, tetapi kepada semua orang.
Yesaya Sandang: Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada audiens podcast ini?
CGT Museum: Dalam beberapa tahun hingga beberapa dekade ke depan, kita akan menghadapi krisis terbesar yang pernah dihadapi umat manusia, yaitu perubahan iklim dan runtuhnya keanekaragaman hayati. Krisis ini akan berdampak pada kita semua. Dampaknya terhadap umat manusia akan sangat besar, bahkan pada tingkat yang hingga saat ini belum sepenuhnya kita pahami. Dan yang jelas, respons yang kita berikan saat ini masih jauh dari yang seharusnya.
Menurut saya, krisis ini tidak sejalan dengan neoliberalisme. Penyelesaian krisis ini tidak sejalan dengan kapitalisme maupun neoliberalisme, melainkan hanya dapat diwujudkan melalui solidaritas antarmanusia yang bebas dari kapitalisme. Karena itu, menurut saya, inilah perjuangan terbesar yang harus kita hadapi. Perjuangan terbesar itu masih ada di depan kita. Saya tetap berharap bahwa kita akan berhasil menemukan solusinya, tetapi yang jelas, bukan melalui kapitalisme.