Serikat Pekerja Kampus adalah Serikat pekerja yang mewadahi pekerja di bidang/sektor pendidikan tinggi

IKUTI KAMI:

Alamat SPK

Mari bergabung, atau tetap terhubung dengan kami untuk memperjuangkan nasib pekerja kampus.

shape
shape

Upah Buruh, Tabungan Buruh

  • Beranda
  • Upah Buruh, Tabungan Buruh
Upah Buruh, Tabungan Buruh

Upah Buruh, Tabungan Buruh

“Menabunglah.” Kalimat ini mungkin merupakan salah satu nasihat ekonomi yang paling sering diterima orang ketika mulai mengeluhkan penghasilannya. Bentuknya bisa berbeda-beda: sisihkan sepuluh persen dari gaji, kurangi jajan, berhenti membeli kopi, jangan terlalu sering nongkrong, bedakan kebutuhan dan keinginan, atau buatlah anggaran bulanan. Semua terdengar masuk akal selama orang yang memberikan nasihat tersebut berangkat dari satu keadaan: setelah seluruh kebutuhan dibayar, masih ada sejumlah uang yang dapat disimpan.

Persoalannya, tidak semua orang hidup dengan keadaan seperti itu. Bagi seorang buruh dengan pendapatan pas-pasan, tanggal gajian sering kali bukan awal dari kebebasan finansial, melainkan awal dari rangkaian kewajiban yang sudah menunggu. Kontrakan harus dibayar, listrik harus dilunasi, ongkos kerja harus disediakan, dapur harus tetap menyala, kebutuhan anak harus dipenuhi, dan utang yang terpaksa dibuat pada bulan sebelumnya karena pendapatan tidak mencukupi kembali jatuh tempo. Gaji yang baru masuk sebenarnya sudah mempunyai banyak tujuan sebelum sempat disebut sebagai “uang milik sendiri”.

Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukan sekadar mengapa seorang buruh tidak menabung. Pertanyaan yang lebih awal adalah: dari mana uang untuk menabung itu harus diambil? Kalau seluruh pendapatan sudah habis untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dihindari, meminta seseorang menyisihkan sebagian dari pendapatannya berarti meminta ia mengurangi sesuatu yang lain. Persoalannya kemudian bukan lagi memilih antara kebutuhan dan keinginan, melainkan menentukan kebutuhan mana yang harus dikorbankan.

Bayangkan seorang pekerja yang berusaha menjalankan semua nasihat penghematan yang diberikan kepadanya. Ia membawa bekal ke tempat kerja, mengurangi makan di luar, tidak membeli pakaian baru, berhenti berlangganan layanan hiburan, menggunakan kendaraan selama mungkin, dan mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak penting. Setelah semua itu dilakukan, harga beras tetap sama. Kontrakan tetap harus dibayar. Motor tetap membutuhkan bensin. Anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Tubuh tetap membutuhkan makanan dan obat ketika sakit. Penghematan mempunyai batas karena kebutuhan biologis dan sosial manusia juga mempunyai batas.

Kita sering membicarakan pengeluaran sebagai daftar angka yang berdiri sendiri. Seratus ribu untuk transportasi dianggap pengeluaran, sekian ratus ribu untuk makanan dianggap pengeluaran, biaya listrik dianggap pengeluaran, dan uang sekolah dianggap pengeluaran. Dari daftar tersebut kemudian muncul anjuran untuk memangkas sebanyak mungkin. Cara melihat seperti itu melupakan satu hal penting: sebagian besar pengeluaran tersebut bukan pilihan konsumsi yang bebas, melainkan biaya yang harus dikeluarkan agar seseorang dapat menjalani kehidupan sehari-hari. Bahkan ongkos pergi bekerja merupakan pengeluaran yang diperlukan agar buruh dapat kembali menjual tenaganya pada hari berikutnya.

Upah karena itu perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar angka yang diterima pada akhir atau awal bulan. Bagi buruh, upah menjadi sumber daya untuk mempertahankan kehidupan dirinya dan keluarganya. Ia makan agar tubuhnya dapat bekerja, membayar tempat tinggal agar memiliki ruang untuk hidup, membayar transportasi agar dapat mencapai tempat kerja, membeli pakaian agar dapat bekerja dengan layak, serta memenuhi berbagai kebutuhan lain yang memungkinkan kehidupan berlangsung dari satu hari ke hari berikutnya. Ketika sebagian besar pendapatan terserap oleh kebutuhan tersebut, ruang untuk menyimpan uang otomatis menjadi semakin kecil.

Keadaan tersebut sering kali ditafsirkan sebagai kegagalan individu. Buruh dianggap tidak cukup disiplin, tidak mampu membuat anggaran, terlalu konsumtif, atau tidak mempunyai perencanaan jangka panjang. Penilaian seperti itu menggeser perhatian dari jumlah pendapatan kepada cara pendapatan tersebut dibelanjakan. Kita menjadi sibuk mencari kesalahan pada keputusan-keputusan kecil seorang buruh, sementara pertanyaan mengenai apakah pendapatan yang diterimanya memang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak justru berada di belakang layar.

Padahal kemampuan menabung sangat bergantung pada posisi ekonomi seseorang. Orang yang mempunyai pendapatan besar dapat melakukan kesalahan dalam mengatur uang dan masih memiliki ruang untuk memperbaikinya. Ia mungkin menghabiskan terlalu banyak uang pada satu bulan, tetapi tabungan, aset, atau pendapatan lain masih memberikan bantalan. Bagi seseorang yang hidup dari gaji ke gaji, kesalahan yang sama dapat menghasilkan utang baru. Ketika motor rusak, ia mungkin harus meminjam uang. Ketika anak sakit, ia mungkin harus menunda pembayaran lain. Ketika pekerjaan berhenti, tidak adanya cadangan membuat seluruh kehidupan rumah tangga segera berada dalam tekanan.

Perbedaan kemampuan menghadapi keadaan darurat itu memperlihatkan bahwa tabungan bukan hanya persoalan watak hemat. Tabungan juga merupakan hasil dari adanya pendapatan yang cukup untuk menyisakan sesuatu setelah kebutuhan hidup dipenuhi. Dua orang dapat sama-sama memahami cara mengelola keuangan, sama-sama mengetahui pentingnya dana darurat, dan sama-sama disiplin mencatat pengeluaran, tetapi tetap memiliki kemampuan menabung yang sangat berbeda karena jumlah pendapatan dan beban kehidupan mereka berbeda sejak awal.

Hal ini semakin terasa ketika nasihat menabung datang dari lingkungan kerja. Buruh diminta memikirkan masa depan, sementara besarnya upah ditentukan melalui berbagai pertimbangan mengenai biaya perusahaan, produktivitas, kondisi pasar, dan keuntungan. Ketika perusahaan menghadapi kenaikan biaya, kita memahami bahwa perusahaan perlu menghitung ulang pengeluarannya. Ketika buruh menghadapi kenaikan biaya hidup, mengapa persoalannya begitu cepat dikembalikan kepada kemampuan mengatur uang pribadi? Perusahaan boleh membicarakan struktur biaya, sedangkan buruh sering diminta memperbaiki gaya hidup.

Kontradiksi itu menjadi lebih jelas ketika kenaikan pendapatan diperlakukan seolah-olah pasti menghasilkan tabungan. Bagi keluarga yang selama bertahun-tahun hidup dalam kekurangan, tambahan pendapatan mungkin pertama-tama digunakan untuk membayar utang, memperbaiki rumah, mengganti kendaraan yang sudah tidak layak, membeli makanan dengan kualitas yang lebih baik, atau memenuhi kebutuhan anak yang sebelumnya ditunda. Sesuatu yang dari luar terlihat sebagai “konsumsi” dapat sebenarnya merupakan kebutuhan yang selama ini dikorbankan karena pendapatan tidak mencukupi.

Karena itu, slogan tentang financial literacy perlu ditempatkan pada proporsi yang tepat. Pengetahuan mengenai anggaran, tabungan, investasi, dan utang tentu berguna. Buruh tidak akan dirugikan karena mengetahui bagaimana mengelola pendapatannya dengan lebih baik. Tetapi pengetahuan tersebut mempunyai batas yang tidak dapat dilewati hanya dengan kedisiplinan. Tidak ada metode penganggaran yang dapat menciptakan surplus ketika seluruh pendapatan telah terserap oleh kebutuhan dasar. Lima persen dari pendapatan yang memang tidak tersisa tidak dapat dipindahkan ke rekening tabungan hanya karena seseorang mempunyai aplikasi pengelola keuangan.

Persoalannya kemudian kembali kepada upah. Buruh menjual tenaga kerjanya selama sejumlah waktu tertentu dan menerima pendapatan sebagai imbalannya. Dalam proses kerja, ia menghasilkan barang atau jasa, mengoperasikan mesin, mengangkut barang, membersihkan ruangan, melayani pelanggan, membangun gedung, mengurus administrasi, atau menjalankan pekerjaan lain yang membuat kegiatan ekonomi berlangsung. Setelah semua itu selesai, ia membawa pulang upah yang harus digunakan untuk membiayai kehidupannya sendiri. Pertanyaan mengenai berapa besar upah tersebut tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai bagaimana hasil kegiatan ekonomi dibagikan.

Sebab buruh tidak bekerja hanya untuk memperoleh uang yang cukup sampai akhir bulan. Ia juga mempunyai kehidupan yang berlangsung setelah jam kerja selesai, keluarga yang harus dipelihara, tubuh yang suatu hari akan menua, kebutuhan yang dapat muncul secara tiba-tiba, dan masa depan yang seharusnya tidak sepenuhnya bergantung pada keberuntungan. Jika seluruh pendapatan habis untuk mempertahankan keadaan hari ini, kemampuan membangun keamanan untuk hari esok akan selalu berada di ujung tanduk. Satu penyakit, satu kecelakaan, satu PHK, atau satu kebutuhan keluarga dapat menghapus apa pun yang sempat disisihkan.

Kita kemudian sampai pada pertanyaan yang lebih sulit: mengapa orang yang bekerja setiap hari masih harus mencari pekerjaan tambahan hanya agar memiliki sedikit uang yang dapat disimpan? Mengapa seseorang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja harus mengurangi kebutuhan hidupnya sendiri supaya dapat membangun dana darurat? Mengapa risiko kehilangan pekerjaan, sakit, kecelakaan, atau kebutuhan keluarga begitu mudah dipindahkan menjadi persoalan pribadi, padahal kemampuan seseorang menghadapi risiko tersebut sangat ditentukan oleh pendapatan yang ia terima dari pekerjaannya?

Pertanyaan seperti ini mengubah cara kita memahami tabungan. Kita tidak lagi melihat tabungan sebagai ukuran sederhana mengenai kedisiplinan seseorang, tetapi sebagai bagian dari pendapatan yang berhasil dipertahankan setelah seluruh kebutuhan kehidupan dibayar. Orang yang mempunyai pendapatan besar memiliki kemungkinan lebih besar untuk menciptakan jarak antara penghasilannya dan pengeluarannya. Orang yang menerima upah pas-pasan justru harus menggunakan hampir seluruh pendapatannya untuk menutup biaya kehidupan yang membuatnya mampu kembali bekerja.

Maka ketika seorang buruh mengatakan bahwa ia tidak memiliki uang untuk ditabung, kita tidak selalu perlu menjawabnya dengan daftar tips penghematan. Bisa jadi ia sudah menghemat sejauh yang sanggup dilakukan. Bisa jadi persoalannya bukan ia tidak mengetahui bagaimana cara menabung, melainkan pendapatannya tidak memberikan ruang yang cukup untuk melakukan itu. Dalam keadaan semacam itu, menyuruhnya berhemat lagi hanya akan memindahkan persoalan dari besarnya upah kepada tubuh dan kehidupan buruh sendiri.

Tabungan memang penting, tetapi tabungan tidak muncul dari kehendak semata. Ia membutuhkan pendapatan yang cukup, kebutuhan yang dapat dipenuhi, dan ruang ekonomi yang memungkinkan sebagian hasil kerja disimpan untuk masa depan. Karena itu, sebelum bertanya mengapa buruh tidak memiliki tabungan, kita perlu bertanya lebih dahulu berapa besar upah yang diterimanya dan berapa biaya yang harus ia keluarkan untuk mempertahankan kehidupannya. Jika jawabannya menunjukkan bahwa hampir seluruh pendapatan habis hanya untuk bertahan sampai bulan berikutnya, maka persoalannya sudah jelas: bukan buruh yang kekurangan nasihat, melainkan pendapatannya yang terlalu sempit untuk memberi ruang bagi masa depan.

 

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

Silakan login atau mendaftar untuk menulis komentar.

icon

Hubungi Kami

Mari Berdiskusi dan Sampaikan Kritik Maupun Saran

Hubungi Kami Sekarang
Image