Hampir Satu Setengah Tahun Bersama SPK: Dari Anggota hingga Dipercaya Memimpin Sumatera Barat
Hampir satu setengah tahun. Jika hanya dihitung dalam kalender, mungkin waktu itu tidak terlalu panjang. Bagi saya, hampir satu setengah tahun bersama Serikat Pekerja Kampus (SPK) bukan sekadar perjalanan waktu. Di dalamnya ada perjumpaan, perjuangan, kebersamaan, perbedaan, kekecewaan, harapan, gagasan, dan banyak pelajaran yang tidak mungkin saya dapatkan hanya dari membaca buku. Perjalanan itu pula yang pada akhirnya membawa saya dari seorang anggota menjadi orang yang dipercaya mengemban amanah sebagai Koordinator Wilayah Sumatera Barat.
Ketika pertama kali menjadi bagian dari SPK, saya tidak pernah membayangkan akan sampai pada posisi tersebut. Saya hadir bukan dengan ambisi untuk mendapatkan jabatan. Saya hanya ingin belajar, hadir, berkontribusi, dan menjadi bagian dari perjuangan bersama. Karena itu, ketika amanah sebagai Koordinator Wilayah Sumatera Barat diberikan, yang pertama muncul dalam diri saya bukanlah kebanggaan, melainkan pertanyaan: apa yang dapat saya lakukan agar kepercayaan itu tidak berhenti sebagai sebuah nama dalam struktur organisasi?
Pertanyaan itu penting karena bagi saya organisasi bukan tentang siapa yang paling tinggi dan siapa yang paling rendah. Organisasi seharusnya menjadi ruang tempat setiap orang memiliki kesempatan untuk tumbuh. SPK sendiri menegaskan prinsip kesetaraan dan non-diskriminatif serta membuka ruang bagi pekerja di sektor pendidikan tinggi dengan latar belakang yang beragam. Karena itu, pengalaman saya selama hampir satu setengah tahun justru semakin meyakinkan bahwa organisasi yang sehat bukan organisasi yang membedakan manusia berdasarkan status, jabatan, latar belakang, atau kedekatan, melainkan organisasi yang memberi ruang kepada siapa pun untuk berkontribusi.
Saya pernah berada dalam pertemuan-pertemuan dengan jumlah anggota yang bahkan tidak selalu memenuhi jumlah jari di satu tangan. Jika dilihat dari angka, mungkin jumlah itu terasa kecil. Tetapi saya tidak pernah melihatnya sebagai kelemahan. Sebab dari jumlah yang sedikit itu ada semangat untuk tumbuh. Ada ide besar yang dibicarakan. Ada gagasan yang mungkin pada saat itu terlihat sederhana, tetapi menyimpan keinginan untuk membangun sesuatu yang lebih besar. Di situlah saya belajar bahwa kekuatan organisasi tidak selalu ditentukan oleh berapa banyak orang yang hadir dalam sebuah ruangan. Kekuatan organisasi justru terlihat dari apa yang dilakukan oleh mereka yang hadir.
Jumlah bukanlah persoalan ketika setiap orang membawa semangat. Sedikit bukan berarti tidak berarti. Bahkan, terkadang gagasan besar justru lahir dari pertemuan yang sederhana, dari orang-orang yang tidak banyak tetapi memiliki keyakinan bahwa perubahan harus dimulai dari sesuatu. Dari ruang kecil itulah saya melihat bahwa organisasi dapat tumbuh ketika orang-orang di dalamnya diberi kesempatan untuk berbicara, berpikir, berbeda pendapat, dan menawarkan gagasan.
Bagi saya, itulah salah satu bukti bahwa SPK bukan organisasi yang diskriminatif. Jika organisasi hanya melihat jumlah, mungkin mereka yang sedikit akan dianggap tidak penting. Jika organisasi hanya melihat jabatan, anggota biasa akan selalu berada di belakang. Jika organisasi hanya melihat latar belakang, kesempatan untuk berkembang hanya akan berputar pada orang-orang tertentu. Tetapi pengalaman saya justru menunjukkan bahwa seseorang dapat memulai dari posisi sebagai anggota, menjalani proses, memberikan kontribusi, membangun komunikasi, dan pada akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar.
Kepercayaan itu tentu tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun melalui proses. Saya belajar bahwa dalam organisasi, seseorang tidak harus menjadi orang yang paling banyak bicara untuk dianggap berkontribusi. Kadang kontribusi hadir melalui kehadiran. Kadang melalui gagasan. Kadang melalui kesediaan membantu. Kadang melalui keberanian menyampaikan kritik. Bahkan, kadang kontribusi hanya berupa kesediaan untuk tetap berada di dalam barisan ketika keadaan tidak mudah.
Saya juga belajar bahwa organisasi tidak boleh menjadi ruang yang membuat orang merasa tidak memiliki tempat. Justru sebaliknya, organisasi harus menjadi ruang yang membuat setiap anggota merasa keberadaannya memiliki arti. Kesetaraan tidak berarti semua orang harus mendapatkan posisi yang sama. Kesetaraan berarti setiap orang memperoleh kesempatan yang layak untuk berpartisipasi, menyampaikan gagasan, berkembang, dan dipercaya sesuai dengan kemampuan serta kontribusinya.
Ketika saya dipercaya menjadi Koordinator Wilayah Sumatera Barat, saya tidak melihatnya sebagai tanda bahwa saya lebih baik daripada anggota lainnya. Saya justru melihatnya sebagai bukti bahwa seorang anggota dapat tumbuh ketika organisasi memberikan ruang. Amanah itu bukan penghargaan untuk meninggalkan barisan anggota. Sebaliknya, amanah itu membuat saya semakin dekat dengan barisan tersebut karena saya sadar bahwa seorang koordinator pada dasarnya tetap seorang anggota yang diberi tanggung jawab tambahan.
Saya ingin menjaga prinsip itu. Koordinator bukan penguasa wilayah. Koordinator bukan orang yang paling benar. Koordinator bukan pula orang yang memiliki hak untuk menentukan semuanya sendiri. Koordinator adalah orang yang diberi amanah untuk menghubungkan, mendengarkan, menguatkan, dan memastikan agar semangat organisasi tetap hidup di wilayah yang dipimpinnya.
Karena itu, tujuan saya di Sumatera Barat sederhana tetapi tidak ringan: membangun wilayah yang semakin terbuka, solid, partisipatif, dan mampu melahirkan gagasan. Saya ingin anggota tidak hanya hadir ketika ada kegiatan, tetapi merasa memiliki organisasi. Saya ingin komunikasi tidak berjalan satu arah. Saya ingin kritik tidak dianggap sebagai ancaman. Saya ingin perbedaan tidak menjadi alasan untuk menjauh. Dan yang paling penting, saya ingin tidak ada anggota yang merasa dirinya terlalu kecil untuk didengar.
Sebab pengalaman saya bermula dari sana. Dari jumlah yang tidak selalu banyak. Dari pertemuan yang sederhana. Dari beberapa orang yang tetap memiliki semangat untuk membicarakan ide besar. Jika ruang kecil saja dapat melahirkan harapan, mengapa kita harus membatasi ruang bagi lebih banyak orang untuk tumbuh?
Itulah sebabnya saya melihat masa depan SPK bukan semata-mata dari bertambahnya jumlah anggota, tetapi dari bertambahnya keberanian anggota untuk berkontribusi. Jumlah memang penting untuk membangun kekuatan kolektif. Namun jumlah tanpa solidaritas tidak akan banyak berarti. Sebaliknya, anggota yang sedikit tetapi memiliki kepedulian, gagasan, dan komitmen dapat menjadi titik awal bagi pertumbuhan organisasi.
SPK sendiri telah memiliki ribuan pekerja kampus yang bergabung, perwakilan wilayah, serta anggota yang berasal dari berbagai kampus dan kota. Bagi saya, angka tersebut seharusnya bukan sekadar statistik. Angka harus diterjemahkan menjadi kekuatan untuk memperjuangkan kesejahteraan, perlindungan hak, kebebasan akademik, dan keadilan bagi pekerja kampus. Di situlah organisasi dapat membuktikan bahwa kesetaraan bukan sekadar slogan.
Bukti lainnya adalah keberanian untuk memberikan ruang kepada anggota dari berbagai latar belakang untuk terlibat dalam kerja organisasi. Sebab organisasi yang benar-benar non-diskriminatif bukan organisasi yang hanya mengatakan bahwa dirinya terbuka. Ia harus membuktikannya melalui proses pengambilan keputusan, pembagian kesempatan, penghargaan terhadap kontribusi, serta keterbukaan terhadap kritik.
Saya tidak mengatakan perjalanan bersama SPK selalu sempurna. Tidak. Dalam hampir satu setengah tahun ini tentu ada perbedaan, ada kekecewaan, ada gagasan yang tidak selalu diterima, dan ada dinamika yang kadang membuat kita harus belajar lebih dewasa. Tetapi justru di situlah ukuran sebuah organisasi. Organisasi yang sehat bukan organisasi tanpa perbedaan. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mengelola perbedaan tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk mendiskriminasi.
Saya percaya, kritik tidak boleh dibalas dengan pengucilan. Perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan kesempatan seseorang. Ketidaksepahaman tidak boleh membuat seseorang kehilangan hak untuk didengar. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi energi untuk memperbaiki organisasi.
Loyalitas pun tidak boleh dimaknai sebagai kewajiban untuk selalu berkata “ya”. Loyalitas adalah keberanian untuk tetap peduli. Ketika ada yang perlu diperbaiki, kita menyampaikan. Ketika ada yang kurang, kita menawarkan solusi. Ketika ada anggota yang tertinggal, kita merangkul. Karena organisasi yang besar bukan organisasi yang hanya memiliki banyak orang, melainkan organisasi yang mampu memastikan tidak ada orang yang merasa ditinggalkan.
Pengalaman hampir satu setengah tahun bersama SPK membuat saya semakin memahami bahwa solidaritas juga bukan sekadar berkumpul. Solidaritas diuji ketika jumlah sedikit, ketika keadaan sulit, ketika gagasan berbeda, dan ketika tidak semua orang mendapatkan apa yang diinginkan. Pada kondisi seperti itulah terlihat apakah kita benar-benar membangun organisasi atau hanya membangun kelompok.
Saya ingin SPK di Sumatera Barat tumbuh sebagai ruang bersama. Bukan ruang milik satu orang. Bukan ruang milik kelompok tertentu. Bukan pula ruang yang hanya terbuka bagi mereka yang memiliki jabatan atau pengaruh. Saya ingin siapa pun yang memiliki gagasan baik, kepedulian, dan kemauan bekerja memiliki kesempatan untuk mengambil bagian.
Karena itu, amanah sebagai Koordinator Wilayah Sumatera Barat saya terima sebagai tanggung jawab untuk memastikan semangat tersebut terus hidup. Saya ingin membangun komunikasi yang lebih terbuka, memperkuat solidaritas, mendorong kegiatan yang nyata, membuka ruang bagi gagasan anggota, dan menjadikan organisasi sebagai tempat bertumbuh.
Ukuran keberhasilannya pun harus nyata. Bukan sekadar berapa banyak rapat yang dilakukan, tetapi apakah anggota merasa didengar. Bukan sekadar berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi apakah kegiatan tersebut memberi manfaat. Bukan sekadar berapa banyak orang yang hadir, tetapi apakah mereka merasa menjadi bagian dari organisasi. Dan bukan sekadar bertambahnya struktur, tetapi apakah semakin banyak anggota yang berani mengambil peran.
Saya kembali pada pengalaman sederhana ketika kami berkumpul dengan jumlah yang tidak selalu penuh lima jari. Pada saat itu, mungkin kami belum memiliki banyak orang. Tetapi kami memiliki sesuatu yang jauh lebih penting, semangat untuk tumbuh dan keberanian untuk memikirkan gagasan besar. Kini, ketika amanah yang lebih besar berada di pundak saya, saya ingin semangat kecil itu tidak hilang. Justru harus diperbesar.
Dari situlah perjalanan saya sebagai anggota kemudian menemukan maknanya. Saya tidak mendapatkan amanah karena jumlah orang yang saya bawa. Saya tidak mendapatkan amanah karena merasa paling hebat. Saya dipercaya setelah menjalani proses bersama organisasi. Bagi saya, proses itulah yang paling penting.
Dari anggota menjadi Koordinator Wilayah Sumatera Barat bukan cerita tentang naiknya seseorang ke posisi yang lebih tinggi. Ini adalah cerita tentang tumbuhnya tanggung jawab. Semakin besar kepercayaan, semakin besar pula kewajiban untuk menjaga kesetaraan. Semakin luas ruang kepemimpinan, semakin besar pula kewajiban membuka ruang bagi orang lain.
Karena itu, saya ingin membuktikan bahwa SPK bukan organisasi yang membeda-bedakan. Buktinya bukan hanya pada kata-kata “kesetaraan” dan “non-diskriminatif”, tetapi pada kesempatan nyata yang diberikan kepada anggota untuk tumbuh, berkontribusi, menyampaikan gagasan, dan dipercaya mengemban amanah.
Dan saya ingin pengalaman pribadi saya menjadi salah satu bagian dari bukti tersebut. Saya datang sebagai anggota. Saya belajar bersama anggota lain. Saya pernah berada dalam kelompok kecil yang jumlahnya bahkan tidak memenuhi jumlah jari di satu tangan. Namun dari kelompok kecil itu lahir semangat dan gagasan besar. Hari ini, saya dipercaya menjadi Koordinator Wilayah Sumatera Barat.
Maka, amanah ini bukan alasan untuk berdiri lebih tinggi. Justru alasan untuk berjalan lebih dekat. Saya ingin menguatkan, bukan menguasai. Merangkul, bukan memilah. Mendengar, bukan menghakimi. Membuka ruang, bukan menutup pintu.
Sebab organisasi yang kuat bukan organisasi yang membuat sebagian orang merasa penting dan sebagian lainnya merasa tidak diperlukan. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu membuat setiap orang percaya bahwa dirinya memiliki tempat dan dapat memberikan arti.
Hampir satu setengah tahun bersama SPK telah mengajarkan saya bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari jumlah yang besar. Ia dapat dimulai dari beberapa orang yang mau duduk bersama, berpikir bersama, berbeda pendapat, kemudian tetap memilih untuk berjalan bersama.
Dan mungkin, di situlah makna terbesar perjalanan ini: bukan tentang berapa banyak orang yang hadir, tetapi tentang seberapa besar semangat yang dibawa oleh mereka yang hadir. Kini amanah sebagai Koordinator Wilayah Sumatera Barat ada di pundak saya. Saya tidak ingin menjadikannya sebagai pencapaian pribadi. Saya ingin menjadikannya sebagai ruang untuk membuktikan bahwa kesetaraan, solidaritas, dan non-diskriminasi dapat diwujudkan dalam kerja organisasi sehari-hari.
Jika kelak masa amanah ini selesai, saya berharap yang tertinggal bukan sekadar nama saya dalam struktur organisasi. Saya berharap ada lebih banyak anggota yang berani berbicara, lebih banyak gagasan yang tumbuh, lebih banyak ruang yang terbuka, lebih kuatnya solidaritas, dan lebih nyata manfaat organisasi bagi para pekerja kampus.
Karena jabatan akan selesai. Struktur akan berubah. Kepengurusan akan berganti. Tetapi nilai yang kita bangun bersama seharusnya tetap tinggal. Hampir satu setengah tahun bersama SPK telah mengajarkan saya untuk bertahan, belajar, memahami, dan tetap peduli. Kini, dengan amanah sebagai Koordinator Wilayah Sumatera Barat, saya tahu bahwa perjalanan itu belum selesai.
Justru baru dimulai. Salam perjuangan dan panjang umur perjuangan!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!