Menjinakkan Leviathan Global: Dilema Eksistensial Kepemilikan Bersama dalam Pusaran Kapitalisme
Dalam dinamika ekonomi modern, hubungan antara pemberi kerja dan buruh kerap dipandang sebagai kodrat pasar yang tidak terelakkan. Namun, jika kita menengok kembali kritik historis Karl Marx dalam Das Kapital, struktur ini pada dasarnya timpang sejak dalam pikiran. Teks-teks klasik perburuhan memperlihatkan bagaimana hukum negara secara historis condong melindungi modal melalui pembatasan maksimum upah, alih-alih menjamin batas minimum yang manusiawi (Marx 2014). Bagi Marx, solusi atas alienasi ini bukanlah sekadar menuntut upah yang lebih tinggi, melainkan sebuah lompatan radikal: penghapusan sistem upah itu sendiri dan pengalihan alat produksi menjadi milik bersama kelas pekerja (Marx 2014; Wright 2010).
Di era kontemporer, manifestasi paling konkret dari gagasan kepemilikan bersama ini mewujud dalam bentuk koperasi pekerja (worker cooperative). Korporasi raksasa asal Basque, Spanyol, yaitu Mondragon Corporation, kerap dijadikan sebagai mercusuar keberhasilan model ini (Cheney 1999). Dengan struktur demokratis yang menerapkan prinsip satu orang satu suara, pembatasan rasio upah eksekutif yang ketat, serta kebijakan tanpa PHK (zero-layoff), Mondragon membuktikan bahwa efisiensi industri skala besar dapat berjalan beriringan dengan keadilan sosial (Gibson-Graham 2006). Ketika krisis ekonomi melanda, buruh-pemilik di Mondragon secara demokratis memilih untuk memotong gaji mereka sendiri demi menyelamatkan kolektif—sebuah anomali total dalam manajemen korporasi kapitalis (Cheney et al. 2014).
Benturan Ideologi di Arena Global
Namun, romantisme sosiologis ini segera membentur dinding realitas yang keras ketika kepemilikan bersama dipaksa bertarung di dalam arena pasar global yang hiper-kompetitif. Di sinilah apa yang disebut para akademisi sebagai "Dilema Mondragon" atau gejala degenerasi koperasi mulai tampak (Flecha & Ngai 2014). Pasar global beroperasi atas logika maksimalisasi profit ekstrem dan akumulasi modal tanpa batas. Korporasi transnasional konvensional dengan mudah meraup modal melalui bursa saham global (Initial Public Offering/IPO), melakukan offshoring ke negara-negara berupah murah, dan memangkas jaminan sosial demi menekan harga komoditas (Harvey 2010).
Koperasi pekerja, di sisi lain, bergerak dengan kaki yang terikat oleh komitmen etisnya sendiri. Karena kepemilikan wajib dipegang oleh pekerja, mereka mengalami kelangkaan akses modal eksternal secara struktural (Wright 2010). Ketika mereka mencoba melakukan ekspansi internasional untuk mempertahankan daya saing, kompromi ideologis yang pahit pun tak terhindarkan.
Kompromi Pahit dan Internasionalisasi Hibrida
Untuk bertahan hidup, Mondragon menerapkan apa yang disebut sebagai strategi internasionalisasi hibrida (Errasti et al. 2017). Mereka mendirikan pabrik-pabrik cabang di negara berkembang seperti China, Meksiko, dan Polandia. Ironisnya, pekerja di pabrik luar negeri ini tidak memiliki hak suara dan berstatus sebagai buruh upahan konvensional. Keuntungan dari sistem eksploitatif luar negeri ini kemudian dibawa pulang ke Spanyol untuk menyubsidi dan mempertahankan kesejahteraan jaring pengaman sosial para anggota koperasi domestik (Errasti 2015).
Bagi para kritikus berhaluan Marxis ortodoks, taktik ini dinilai sebagai bentuk pengkhianatan ideologis—sebuah tanda bahwa koperasi telah terkooptasi menjadi entitas kapitalis kolektif yang mengeksploitasi periferi demi kemakmuran pusat (Kasmir 1996). Namun, bagi para ekonom pragmatis, ini adalah manuver defensif yang realistis. Tanpa adanya adaptasi hibrida tersebut, organisasi kepemilikan bersama akan tergilas habis oleh efisiensi kejam dari raksasa multinasional (Cheney et al. 2014).
Melampaui Hegemoni Tatanan Dunia
Membaca kebuntuan ini, pemikiran teoretis Robert Cox memberikan landasan analitis makro yang krusial. Dalam kerangka ekonomi politik kritisnya, Cox (1981, 1987) menegaskan bahwa institusi, ide, dan kapabilitas material di bawah payung tatanan dunia (world orders) neoliberal selalu dikonstruksikan untuk melestarikan hegemoni kelas penguasa. Oleh karena itu, sebuah eksperimen ekonomi alternatif lokal, betapapun setianya pada etika demokrasi, akan selalu dipaksa tunduk oleh disiplin pasar global jika ia berdiri terisolasi. Transformasi tidak bisa dicapai secara parsial di tingkat mikro-perusahaan semata.
Namun, Cox tidak meninggalkan kita dalam pesimisme struktural. Alih-alih melihat kegagalan, Cox (1983) memandang anomali seperti Mondragon sebagai tunas potensial dari munculnya kekuatan sosial (social forces) baru dari bawah. Agar tidak larut dalam arus degenerasi kapitalistik, emansipasi lokal ini harus bertransformasi menjadi sebuah blok historis tandingan (counter-hegemonic historic bloc) global. Aliansi transnasional yang menghubungkan serikat pekerja, masyarakat sipil, koperasi, dan gerakan politik progresif di berbagai belahan dunia menjadi imperatif mutlak untuk mendestabilisasi konsensus hegemoni pasar global.
Terus Bangkit dan Melawan!
Pada akhirnya, dilema eksistensial Mondragon menegaskan kembali tesis klasik: sebuah pulau sosialis kecil tidak akan pernah selamat jika terus dikepung oleh lautan kapitalisme global. Koperasi pekerja membuktikan bahwa transformasi tempat kerja yang demokratis itu sangat mungkin dilakukan secara teknis. Namun, jalan ke depan menuntut perjuangan yang jauh lebih luas. Seperti yang diisyaratkan oleh Cox, kepemilikan bersama tidak boleh sekadar menjadi taktik bertahan hidup di pinggiran kapitalisme; ia harus menjadi katalis politik yang secara kolektif merombak arsitektur makro tatanan dunia.
Daftar Bacaan:
Cheney, George. 1999. Values at Work: Employee Participation Meets Market Pressure. Ithaca, NY: Cornell University Press.
Cheney, George, Inger-Lise Kalviknes Bore, Elizabeth A. S. Hammons, Brendan D. S. Morris, dan Tyler S. R. Rials. 2014. "Cooperative Values and Market Realities in Changing Times." Journal of Co-operative Organization and Management 2(2):55–63.
Cox, Robert W. 1981. "Social Forces, States and World Orders: Beyond International Relations Theory." Millennium: Journal of International Studies 10(2):126–155.
Cox, Robert W. 1983. "Gramsci, Hegemony and International Relations: An Essay in Method." Millennium: Journal of International Studies 12(2):162–175.
Cox, Robert W. 1987. Production, Power, and World Order: Social Forces in the Making of History. New York: Columbia University Press.
Errasti, Anjel-Maria. 2015. "Mondragon's Solidarities Facing Crisis." WorkingUSA: The Journal of Labor and Society 18(2):237–250.
Errasti, Anjel-Maria, Ignacio Bretos, dan Enekoitz Etxezarreta. 2017. "The Internationalization of Cooperatives: The Case of the Mondragon Group." Economic and Industrial Democracy 38(4):633–654.
Flecha, Ramon dan Pun Ngai. 2014. "The Mondragon Cooperative Experience: Humanity at Work." International Sociology 29(6):536–552.
Gibson-Graham, J. K. 2006. A Postcapitalist Politics. Minneapolis, MN: University of Minnesota Press.
Harvey, David. 2010. The Enigma of Capital and the Crises of Capitalism. Oxford, UK: Oxford University Press.
Kasmir, Sharryn. 1996. The Myth of Mondragon: Cooperatives, Politics, and Working-Class Life in a Basque Town. Albany, NY: State University of New York Press.
Marx, Karl. 2014. Das Kapital: Kritik der politischen Ökonomie (Terjemahan Indonesia). Jakarta: Hasta Mitra.
Wright, Erik Olin. 2010. Envisioning Real Utopias. London, UK: Verso.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!