Kebebasan Berserikat Hanya Ilusi Tanpa Kebebasan Akademik
Serikat Pekerja Kampus (SPK) menjadi pemantik diskusi webinar berjudul ”Collective Actions and Academic Freedom: Sharing Organizing and Mobilizing Experiences” yang diselenggarakan Southeast Asian Coalition for Academic Freedom (SEACAF) pada Kamis, 4 Juni 2026. Webinar dibuka oleh Bencharat Sae Chua, mewakili SEACAF.
Mewakili Serikat Pekerja Kampus, Dhia Al Uyun membagikan pengalaman SPK dan pekerjaannya sebagai jaringan nasional.
Ia menguraikan bagaimana mengorganisir dan memobilisasi gerakan.
Dalam kesempatan teresebut, Dhia juga menceritakan pemberangusan aktivitas serikat pekerja yang dialami SPK.
Dari Thailand, Pinyapan Pot Janalawan menerangkan temuan utama dari bukunya baru-baru ini tentang pengalaman serikat pekerja akademik di seluruh dunia. Seberapa penting serikat pekerja/aksi kolektif.
Di sesi selanjutnya, I Gusti Agung Made Wardana mewakili Serikat Pekerja Universitas Gadjah Mada (Sejagad) membagikan pengalaman serikat pekerja di UGM.
Ia menyoroti bagaimana mengorganisir staf di UGM untuk menyadari perlunya memiliki serikat pekerja.
Menurutnya, kebebasan akademik adalah nilai dalam Sejagad sekaligus menjadi trend masalah dalam survei internal UGM yang melibatkan 180 anggota. Trend masalah lainnya adalah perjanjian kerja, penghasilan, kerja sampingan, diskriminasi, dan keamanan sosial.
Presentasi terakhir disampaikan Carl Marc Ramota dari Filipina. Ia membagikan wawasan, nilai peran mereka dalam perlindungan kebebasan akademik. Termasuk alasan membutuhkan serikat pekerja dan bagaimana serikat pekerja di Filipina bernegosiasi dengan universitas, tidak hanya tentang kondisi kerja tetapi juga tentang kebebasan akademik.